Kamis, 21 Januari 2016

kehidupan dunia hanya perjalanan menuju keabadian.


Sekitar tahun 1925
M/ 1343 H. lahirlah
seorang bayi laki-laki
dari pasangan KH.
Nawawi bin
Nurhasan Sidogiri
dengan Nyai
Nadzifah. Di
kemudian hari, bayi
itu diberi nama
Muhammad Cholil.
Nama itu adalah
pemberian dari
Syaikhona Cholil
Bangkalan. Konon,
Mbah Cholil
mengatakan bahwa kelak Cholil kecil akan
menjadi penggantinya.
Hari demi hari pun berlalu. Cholil kecil tumbuh
sehat. Kini, beliau mulai mengeja huruf.
Mempelajari kitab-kitab salaf. Beliau berpindah
dari satu pondok ke pondok yang lain. Mulai
belajar di Sidogiri, sampai mengembara ke Makkah
al-Mukarramah.
Konon, beliau juga pernah nyantri di Pondok
Pesantren Sarang Jawa Tengah. Saat itu, Sarang
dipengasuhi oleh KH. Zubair (Ayahanda KH.
Maimum Zubair). Beliau begitu tekun mengaji dan
mengkaji. Disamping itu, secara sembunyi-
sembunyi beliau mengisi jading KH. Zubair. Setiap
pagi, jading sudah terisi penuh. Hati KH. Zubair
bertanya-tanya, siapa kira-kira yang mengisi
jading. Tak lama kemudian, KH. Zubir pun tahu
bahwa yang mengisi jeding adalah Kiai Cholil bin
Nawawi dari Sidogiri. Lalu, KH. Zubair berkata
kepada Kiai Cholil, “Mas, Kamu pulang saja,
kasihan yang lain”
Semangat Kiai Cholil bin Nawawi memang tidak
diragukan lagi. Kitab seakan sudah menjadi teman
sejati. Tak ada hari tanpa untaian ilmu itu.
Bahkan, Nyai Murti, istri kedua Kiai Cholil juga
menuturkan, setiap Kiai datang menggilir, beliau
tidak pernah lepas dari kitab. Malah menjelang
tidurpun beliau masih terus membaca kitab
hingga akhirnya tertidur.
Selain itu, Kiai Cholil juga istikamah mengajar.
Seakan tidak ada kata libur dalam kamus beliau.
Setiap ada kesempatan, beliau pasti mengajar.
Mengajar adalah amal baik yang dijadikan tirakat
oleh beliau. Konon, suatu ketika Kiai Cholil
mengajak Ust. Abdurrahman Syakur menghadiri
Undangan dengan menaiki dokar. Di sela-sela
perjalanan itu Kiai Cholil menyempatkan
mengajarinya ilmu Fara’idh. Alhmadulillah, sampai
sekarang pelarajan yang diberikan Kiai Cholil
masih melekat.
Perinsip Kiai Cholil Nawawi adalah “ Lazimul
Muthala’ah wal Jama’ah Tananlul-Ulum an-Nafi’ah
(Tekunlah belajar dan salat berjema’ah, niscaya
kau peroleh ilmu yang bermenfaat.”
Kebiasaan lain yang sangat beliau tekuni adalah
salat berjemaah. Bisa dikata Kiai Cholil sampai ajal
menjemput tidak pernah meninggalkan salat
berjemaah. Pada saat sakit pun beliau masih
menyempatkan diri untuk salat berjemaah. Salat
terakhir beliau adalah salat Isya’ yang dilanjutkan
dengan salat tarawih. Waktu itu, beliau sudah
sakit parah. Beliau sudah tidak mampu salat
berdiri. Namun, dengan tekat menancap di hati
beliau melangkah ke masjid untum bermakmum
pada KH. Abdul Alim. Dengan tawaduk, beliau
bertanya kepada KH. Abdul Alim apakah beliau
sudah bisa salat duduk. Setelah itu, beliau salat
bermakmu pada KH. Abdul Alim.
Kiai Cholil Nawawi adalah seorang yang begitu
peduli pada masyarakat kecil. Beliau begitu
kasihan pada mereka. Jika ada orang menjajakan
dagagan ke dalem beliau menjelang lebaran,
hampir pasti beliau selalu memblinya. Beliau
tidak tega jika pedagang kecil itu pulang dengan
tangan hampa. Untuk sementara, barang itu akan
di simpan di dalem. Ketika hari raya tiba, beliau
membagi-bagikan barang itu pada tetangga.
Kiai Cholil juga menyediakan padi untuk
masyarakat. Di dalem beliau ada dua lumbung
padi, satu untuk keperluan dalem, yang satu
untuk persediaan takut masyarakat
membutuhkan. Suatu ketika, panin gagal.
Masyarakt kelaparan. Mereka pun berduyun-
duyun mendatangi dalem Kiai Cholil. Lumbung
persediaan untuk dalempun iktu habis. Akan
tetapi, masih belum mencukupi. Masyarakat ada
yang tidak kebagian. Lalu, Kiai Cholil menangis.
Beliau sedih karena merasa tidak bisa membantu
masyarakat dengan maksimal.
Kiai Cholil begitu arif memandang kehidupan
dunia. Menurut beliau kehidupan dunia hanya
perjalanan menuju keabadian. Kehidupan dunia
hanya untuk memperbanyak bekal untuk kelak di
akhirat. Suatu hari, Kiai Cholil mengadukan
perasaannya pada KH. Kholid.
“Lid, Aku sekarang susah.” Kata Kiai Cholil.
“susah kenapa Kiai?” Tanya KH. Kholid.
Lalu, Kiai Cholil menjawab, “Setiap kali saya
sedekah, Allah swt. langsung membalasnya.
Kemarin, Saya sedekah sarung kepada orang. Tak
lama kemudian ada orang mengantarkan saurng 10
helai ke rumah. Beberapa harinya lagi, saya
bersedekah, tak lama kemudian ada orang
mengantarkan sesuatu yang sama dengan apa
yang saya sedekahkan dengan jumlah lebih besar.
Saya takut, balasan Allah swt. itu diberikan
kepada saya di dunia saja, sementara di akhirat
nanti saya tidak mendapatkan apa-apa.” Dawuh
Kiai Cholil sambil meneteskan air mata.
Bahkan, saat makan, ketika terasa Nikmat, Kiai
Cholil berhenti. Alasannya, “Saya hawatir nikmat
saya habis di dunia.” Kata Kiai Cholil. Tak heran,
jika Kiai Cholil sering berdo’a, “Ya Allah, hidupkan
aku dalam keadaan miskin. Dan ambil nyawaku
dalam keadaan miskin. Serta, kumpulkanlah aku
bersama orang-orang miskin”
Kia Cholil adalah kiai besar yang tidak mau
dibesar-besarkan. Sifat tawaduk mengakar kuat
dalam hati beliau. Suatu saat, beliau diundang ke
satua acara perkawinan. Ketepatan yang
mengundang tidak begitu kenal kepada Kiai
Cholil. Saat Kiai Cholil datang, tuan rumah tidak
menyambut beliau seperti menyambut kiai besar.
Pakain sederhana kiai membuat tuan rumah tidak
mengira bahwa beliau pengasuh Sidogiri. Dengan
tenang Kiai Cholil langsung duduk dengan para
undangan yang lain. Selang beberapa lama, tuan
rumah tahu bahwa yang duduk dengan
masyarakat biasa itu Kiai Cholil. Tuan rumah
langsung bangkit dan mempersilahkan kiai Cholil
agar masuk ke tempat yang telah disediakan
untuk para kiai. Kiai Cholil menjawab, “Sudah di
sini saja, sama saja kok.”
Ramadan sudah ada di penghujung akhir. Kiai
Cholil tetap memaksa salat Trawih berjemaah di
Masjid meski beliau sakit. Di tengah salat Trawih,
beliau pergi ke jading mengambil wudu. Ketika
mau keluar, Kiai Cholil terjatuh tanpa seorang
pun yang tahu. Untunglah, tak selang beberapa
lama, khadamnya datang menolong. Si khadam
langsung memeluk Kiai Cholil samberi berdiri
untuk di anngkat ke dalem, tapi tak lama
kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir.
Tanpa terasa, air mata tumpah. Isak tangis
terdengar sayup-sayup. Hati juga tak kalah sedih
karena tak rela kehilangan sang kiai. Beribu-ribu
orang hadir memberikan penghormatan terakhir.
Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengenang
dengan doa. Saat itu, keranda seakan berjalan di
ujung jari, karena banyaknya orang yang memikul,
bahkan tikar yang menjadi alas keranda menjadi
rebutan sampai habis. Mereka menginginkan
secuil berokah dari Kiai Cholil bin Nawawi.
Kiai Cholil wafat pada malam Senin pon 21
Ramadan tahun 1397 H/ 05 September 1997 M dan
dihauli di Pondok Pesantren Sidogiri setiap tanggal
21 Ramadan. Para santrinya juga secara rutin
menghauli beliau dan para Masyayikh Sidogiri yang
lain, dilaksanakan oleh Ikatan Santri Sidogiri dan
Ikatan Alumni Santri Sidogiri seperti yang
diselenggarakan pada malam hari ini.
Akhiran,
Semoga dan semoga kita dapat mengikuti jejak
hidupnya
Semoga dan semoga kita merengkuh ridanya
Semoga dan semoga kita dapat meneguk aliran
berokahnya
Semoga dan semoga, Semoga dan semoga, Semoga
dan semoga kita diakui sebagai santrinya, baik di
dunia maupun di akhirat nanti
Amin-amin Ya Mujibas Sailin.....
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wa Barokatuh
Judul: kehidupan dunia hanya perjalanan menuju keabadian.
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Unknown

Terimakasih atas kunjungan Sobat beserta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan Saran sobat dapat sampaikan melalui Kotak komentar dibawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar